Web GIS
Anugrah Batik Ciwaringin
Batik Tulis Ciwaringin berkomitmen menjaga kelestarian alam melalui penggunaan 100% pewarna alami yang diekstrak dari kulit kayu mahoni, manggis, hingga daun jengkol, sehingga menghasilkan wastra ramah lingkungan yang aman bagi kulit sensitif maupun bayi karena bebas residu bahan kimia. Selain aspek ekologis dan kesehatan, batik ini memiliki nilai seni dan filosofis tinggi melalui motif khas yang sarat makna sejarah perjuangan, seperti Tebu Sekeret dan Pecutan, serta teknik merawit (goresan tipis) yang rumit dan sulit ditiru.

Limbah Menjadi Berkah. Berbeda dengan batik sintetis, Batik Ciwaringin memanfaatkan kekayaan alam sekitar:
Bahan: Kulit kayu mahoni, kulit manggis, daun jengkol, kulit rambutan.
Proses: Perebusan bahan selama 4 jam, pencelupan kain hingga 7 kali, dan fiksasi warna.
Manfaat: Aman untuk kulit sensitif (termasuk bayi), ramah lingkungan, dan limbahnya tidak mencemari ekosistem.
Setiap helai kain memiliki gradasi warna unik (merah, cokelat, jingga) yang tidak bisa direplikasi oleh mesin.

Tebu Sekeret
Filosofi: Mengenang masa kolonial saat warga menahan lapar dengan menghisap potongan tebu. Simbol perjuangan dan ketahanan hidup.

Pecutan
Filosofi: Menggambarkan semangat anak-anak belajar mengaji kepada Kiai. Pengingat untuk terus menuntut ilmu agama.

Gribigan
Filosofi: Terinspirasi dari arsitektur rumah tradisional Ciwaringin zaman dahulu. Simbol kesederhanaan dan identitas lokal.
Batik Tulis Pewarna Alami Terpercaya di Cirebon






Pemberdayaan & Kolaborasi
Menjadi penyelamat bagi warga yang dulunya menjadi buruh migran. Kini mereka kembali ke desa, bergabung dalam Koperasi Anugerah Batik yang mewadahi 150 pengrajin.
Didukung oleh Astra Tol Cipali dan Pemkab Cirebon melalui pelatihan, alat produksi, dan branding. Batik Ciwaringin kini memiliki HAKI (Hak Kekayaan Intelektual).
Sebagai bagian dari warisan budaya batik Indonesia, Ciwaringin menawarkan produk bernilai tinggi (Rp15 - Rp20 juta omzet perajin saat ramai) dengan kualitas ekspor.